Fenomena penggunaan vape di kalangan remaja bukan lagi sekadar tren sesaat, tetapi telah menjadi gejala sosial yang kompleks. Di balik kepulan uap yang tampak “ringan” dan “modern” di antara candaan para remaja, tersimpan persoalan serius: identitas diri, tekanan sosial, dan lemahnya kontrol lingkungan masyarakat atau sosial.
Pertanyaannya bukan lagi “mengapa remaja mencoba vape?”, tetapi “apa yang sedang terjadi di sekitar mereka?”
Penggunaan vape pada remaja berisiko menyebabkan masalah kesehatan fisik, seperti gangguan paru (batuk kronis, sesak), risiko penyakit jantung dan penurunan daya tahan tubuh. Dampak lainnya berupa masalah kesehatan mental berupa ketergantungan nikotin, gangguan konsentrasi dan kecemasan saat tidak menggunakannya. Sementara itu, perilaku sosial akan menormalisasi merokok sejak dini (menganggap remaja bahkan anak merokok adalah yang biasa), serta munculnya potensi mencoba zat lain, termasuk narkotika dan psikotropika.
Remaja: Fase Pencarian Jati Diri
Masa remaja adalah periode penting dalam perkembangan manusia. Mereka sedang mencari identitas, mudah terpengaruh lingkungan di sekitarnya, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan cenderung mengambil risiko yang tidak mereka sadari. Dalam kondisi ini, vape hadir dan diasumsikan sebagai simbol “keren”, “dewasa” dan “tidak seberbahaya rokok”. Padahal, persepsi tersebut seringkali dibentuk oleh lingkungan yang abai atau bahkan tidak [eduli terhadap dampak jangka panjangnya, bukan fakta ilmiah.
Kondisi tersebut membentuk persepsi remaja menganggap vape sebagai alternatif yang lebih aman dibanding rokok. Ini adalah ilusi yang berbahaya, karena faktanya vape tetap mengandung nikotin yang menyebabkan kecanduan, mengandung bahan kimia berbahaya yang merusak paru dan jantung, serta dapat menjadi pintu masuk ke rokok konvensional Yang sangat mengkhawatirkan lagi adalah penggunaan vape sering dimulai dari coba-coba atau ikut teman, kemudian menjadi kebiasaan yang pada akhirnya menjadi ketergantungan.
Masalah utamanya bukan pada vape, tetapi kurangnya literasi kesehatan, baik pada remaja itu sendiri, maupun lingkungannya (termasuk teman/kelompok sebaya, keluarga, dan masyarakat). lemahnya kontrol sosial, minimnya figur teladan dan rendahnya ketahanan diri (self-control dan resilience). Vape hanyalah gejala, bukan akar masalah.
Lingkungan: Faktor Penentu yang Sering Diabaikan
Remaja tidak tumbuh dalam ruang hampa. Ada tiga lingkungan utama yang sangat berpengaruh, antara lain:
- Lingkungan teman sebaya, yang merupakan faktor paling kuat, karena remaja cenderung ingin diterima, takut dianggap “tidak gaul” dan terjadi tekanan kelompok (peer pressure). Ketika seorang teman menggunakan vape akan dapat memicu satu kelompok ikut mencoba.
- Lingkungan keluarga, yang mana peran keluarga seringkali menentukan arah. Ketika dalam keluarga kurang komunikasi terbuka, remaja minim pengawasan dan orang tua juga merokok/nge-vape, maka pesan yang sampai ke remaja menjadi kontradiktif, yaitu dilarang, tapi dicontohkan. Parahnya lagi, ada orang tua yang membiarkan anaknya merokok atau nge-vape di depan mereka. Arinya di keluarga tersebut telah terjadi pembiaran atau bahkan penjerumusan.
- Lingkungan sosial dan media, di mana media sosial memainkan peran besar, seperti influencer mempromosikan gaya hidup nge-vape, visualisasi yang menarik (warna, rasa, desain) dari vape, dan normalisasi perilaku nge-vape. Kondisi ini menjadikan vape tidak lagi dianggap risiko, tetapi bagian dari gaya hidup.
Ketiga lingkungan tersebut sangat berpengaruh dalam membentuk persepsi dan perilaku remaja, terutama dalam normalisasi “penjerumusam” remaja nge-vape.
Peran Lingkungan: Solusi yang Harus Diperkuat
Pengaruh lingkungan harus dapat berdampak positif dalam membentuk persepsi dan perilaku remaja, mengingat bahwa remaja merupakan generasi penerus bangsa, terutama keluarga. Ketika remajanya nge-vape. Apakah ada jaminan mereka akan mampu berpikir positif dan kreatif, meningkatkan kemampuan keluarga dan bangsa, terlebih lagi menjadi suri teladan terhadap generasi penerus mereka? Hal ini yang menjadi taruhannya. Lantas, bagaimana lingkungan dapat berdampak positif terhadap remaja? Beberapa peran yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
- Keluarga, yaitu dengan mangun komunikasi terbuka, menjadi role model (contoh/teladan) dan mengawasi tanpa menghakimi anak, sehingga mereka tumbuh dalam lingkungan kondusif.
- Sekolah, dengan memberikan edukasi kesehatan yang relevan (baik mandiri oleh pihak sekolah maupun bekerja sama dengan Puskesmas atau organisasi/komunitas peduli remaja), kampanye anti-vape kreatif dan melibatkan siswa sebagai agen perubahan,
- Pemerintah daerah melalui perangkat daerah terkait berupa penguatan regulasi penjualan vape ke remaja, edukasi berbasis komunitas dan integrasi program promotif-preventif, termasuk skrining perilaku merokok dan upaya berhenti merokok.
- Masyarakat dengan upaya tidak menormalisasi vape dan membentuk lingkungan sosial yang sehat, termasuk komunitas tanpa rokok/vape,
Penutup
Ketika kita melihat remaja menggunakan vape, jangan hanya bertanya “kenapa mereka merokok?” Tetapi tanyakanlah “Apa yang kurang dari lingkungan kita sehingga mereka mencarinya di sana?” Karena sejatinya remaja tidak hanya membutuhkan larangan, tetapi arah, teladan, dan ruang untuk bertumbuh dengan sehat.
Vape bukan solusi, tetapi potensi masalah baru. Remaja bukan pelaku utama, tetapi korban lingkungan/sosial yang kurang peduli atau permisif terhadap kondisi dan perilaku di sekitarnya. Perubahan harus dimulai dari lingkungan yang peduli, bukan hanya individu semata.
Oleh: Nugroho Kuncoro Yudho









