Demam Berdarah Dengue (DBD) dapat menyerang siapa saja, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Saat ini, DBD masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang kerap muncul setiap tahun, terutama ketika musim hujan. Penyakit DBD disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus pada pagi dan sore hari. Di samping DBD, gigitan nyamuk tersebut juga bisa menularkan penyakit Chikungunya dan Zika, namun virusnya berbeda (Alphavirus) dan gejala yang ditimbulkan juga berbeda.
Nyamuk tersebut biasanya bersarang dan berkembang biak di air bersih, baik di dalam maupun di sekitar rumah/bangunan. seperti bak mandi, ember, drum, talang air, vas bunga, tempat minum hewan, hingga sampah yang dapat menampung air hujan. Karena itu, lingkungan rumah yang bersih dan bebas jentik menjadi faktor penting dalam pencegahan.
Orang yang terserang DBD biasanya ditandai dengan demam mendadak, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, nyeri belakang bola mata, mual dan manifestasi perdarahan seperti uji tourniquet (rumple lead) positif, bintik-bintik merah di kulit (petekie), mimisan, gusi berdarah, muntah dan dapat juga disertai gejala lain yang tidak spesifik. Pada kondisi tertentu akan terjadi perdarahan. Dalam beberapa kasus, DBD dapat berkembang menjadi kondisi berat yang dikenal dengan dengue shock syndrome (DSS) dan menyebabkan kematian apabila tidak ditangani dengan cepat dan tepat.
Faktor-faktor yang berperan terhadap peningkatan kasus DBD antara lain kepadatan vektor, kepadatan penduduk yang terus meningkat sejalan dengan pembangunan kawasan pemukiman, urbanisasi yang tidak terkendali, meningkatnya sarana transportasi (darat, laut dan udara), perilaku masyarakat yang kurang sadar terhadap kebersihan lingkungan, serta perubahan iklim (climate change).
Saat terjadi peningkatan kasus DBD, masyarakat biasanya segera meminta dilakukan fogging. Masyarakat sering kali menganggap bahwa fogging atau penyemprotan nyamuk adalah solusi utama untuk mengatasi masalah tersebut. Padahal, pengendalian DBD tidak cukup hanya mengandalkan asap fogging, bahkan cenderung tidak efektif, karena fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, sedangkan telur nyamuk akan menetas dan menjadi larva/jentik dalam waktu 1 – 2 hari. Namun, kecepatan ini sangat bergantung pada suhu lingkungan dan air tempat nyamuk bersarang. Jika suhu rendah (16o atau kurang), waktu menetasnya bisa sampai 1 minggu.
Fogging Penting, Tetapi Bukan Solusi Utama
Asap fogging memang membantu membunuh nyamuk dewasa yang berpotensi menularkan virus dengue. Namun perlu dipahami bahwa fogging memiliki keterbatasan, karena hanya efektif membunuh nyamuk dewasa yang terkena paparan asap. Sementara itu telur, larva/jentik, dan pupa/kepompong nyamuk tetap dapat hidup dan berkembang menjadi nyamuk baru beberapa hari kemudian. Artinya, jika sumber perkembangbiakan nyamuk tidak diberantas, maka populasi nyamuk akan kembali meningkat. Karena itu, fogging hanya merupakan tindakan tambahan (supplementary control), bukan solusi utama. Fogging juga harus dilakukan sesuai indikasi epidemiologi dan prosedur kesehatan lingkungan yang benar. Penggunaan fogging secara berlebihan tanpa pengendalian sarang nyamuk justru akan menyebabkan resistensi insektisida pada nyamuk dan pencemaran lingkungan di kemudian hari.
Peran Serta Masyarakat adalah Kunci Utama
Nyamuk berkembang biak di sekitar rumah dan lingkungan permukiman termasuk kantor dan sekolah, sehingga masyarakat menjadi ujung tombak pencegahan. Langkah paling efektif untuj pencegahannya adalah penerapan PSN 3M Plus, yaitu:
1. Menguras, berupa membersihkan tempat penampungan air secara rutin.
2. Menutup, yaitu menutup rapat tempat penyimpanan air.
3. Mendaur ulang dengan memanfaatkan atau membuang barang bekas yang dapat menampung air.
Plus menggunakan cara lain seperti menggunakan kelambu, memakai lotion anti nyamuk, memelihara ikan pemakan jentik, menanam tanaman pengusir nyamuk dan menjaga kebersihan lingkungan. Pencegahan DBD tidak dapat berhasil hanya oleh petugas kesehatan. Tanpa partisipasi masyarakat, upaya pengendalian akan sulit mencapai hasil optimal. Keberhasilan pengendalian DBD sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat.
Pentingnya Juru Pemantau Jentik (Jumantik)
Pencegahan DBD yang paling efektif terletak pada keterlibatan aktif masyarakat dalam memantau jentik secara rutin dan memberantas sarang nyamuk. Salah satu strategi penting dalam pengendalian DBD adalah keberadaan Juru Pemantau Jentik (Jumantik). Jumantik merupakan kader atau anggota masyarakat yang bertugas memantau keberadaan jentik nyamuk di rumah-rumah dan lingkungan sekitar. Peran Jumantik sangat penting karena untuk mendeteksi dini keberadaan jentik, mengedukasi masyarakat, mengingatkan pentingnya PSN, serta membantu monitoring risiko penularan DBD. Jumantik bukan sekadar pemeriksa jentik, tetapi juga agen perubahan perilaku masyarakat. Satu Rumah Satu Jumantik menjadi salah satu pendekatan yang efektif dalam membangun kesadaran keluarga agar rutin memeriksa tempat-tempat penampungan air minimal seminggu sekali. Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik adalah bentuk peran serta dan pemberdayaan masyarakat dengan melibatkan setiap keluarga dalam pemeriksaan, pemantauan dan pemberantasan jentik nyamuk untuk pengendalian penyakit tular vektor khususnya DBD melalui pembudayaan 3M PLUS.
Pengendalian DBD Membutuhkan Kolaborasi
Penanggulangan DBD membutuhkan kerja sama semua pihak, baik dari masyarakat, pemerintah, sekolah/madrasah, fasilitas kesehatan, tokoh masyarakat, hingga media massa/informasi, baik cetak maupun digital/online. Edukasi kesehatan yang terus-menerus sangat penting agar masyarakat memahami bahwa membunuh nyamuk dewasa saja tidak cukup, tetapi harus memutus siklus perkembangbiakan nyamuk. Semakin tinggi kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan, semakin rendah risiko terjadinya penularan DBD.
Penutup
Demam Berdarah Dengue masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Fogging dapat membantu mengurangi populasi nyamuk dewasa, tetapi bukan solusi utama dalam pengendalian DBD. Kunci utama pencegahan tetap berada pada pemberantasan sarang nyamuk, perilaku hidup bersih, partisipasi aktif masyarakat, dan penguatan peran Juru Pemantau Jentik (Jumantik). Pencegahan DBD bukan hanya tugas petugas kesehatan, tetapi tanggung jawab bersama seluruh masyarakat.
“Asap fogging dapat membunuh nyamuk sesaat, tetapi kepedulian masyarakat dapat memutus penularan demam berdarah selamanya.”
Oleh: Nugroho Kuncoro Yudho











