CUCI TANGAN PAKAI SABUN DAN AIR: KEBIASAAN SEDERHANA, PERLINDUNGAN BESAR DARI PENYAKIT MENULAR

Tangan adalah bagian tubuh yang paling sering bersentuhan dengan dunia luar. Dengan tangan, kita menyentuh gagang pintu, meja, uang, telepon genggam, makanan, hewan, hingga wajah sendiri. Tanpa disadari, tangan dapat menjadi ”kendaraan” bagi mikroorganisme untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain, bahkan masuk ke dalam tubuh melalui mata, hidung, dan mulut. Karena itu, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir bukan sekadar kebiasaan menjaga kebersihan, tetapi merupakan salah satu intervensi kesehatan masyarakat yang sederhana, murah dan memiliki dampak besar dalam memutus rantai penularan penyakit. Cuci tangan dengan sabun sebagai salah satu cara terbaik untuk mencegah penyakit dan penyebaran kuman. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) merekomendasikan cuci tangan dengan sabun selama sekitar 20 detik sebagai salah satu cara terbaik untuk mencegah penyakit dan penyebaran kuman

Mengapa tangan bisa menjadi sumber penularan?

Banyak mikroorganisme penyebab penyakit dapat menempel pada tangan setelah seseorang menggunakan toilet, batuk atau bersin, menyentuh benda yang terkontaminasi, menangani makanan mentah, membuang sampah, atau bersentuhan dengan hewan. Masalahnya, tangan yang tampak bersih belum tentu bebas kuman. Kuman dari tangan kemudian dapat berpindah ketika seseorang menyentuh mulut, hidung, mata, makanan dan minuman, peralatan makan, permukaan yang sering disentuh, dan tangan orang lain. Dengan demikian, tangan dapat menjadi mata rantai penting dalam transmisi penyakit, baik melalui jalur fekal-oral (dari tinja ke mulut) maupun melalui kontak langsung dan tidak langsung.

Mengapa harus pakai sabun dan air?

Mencuci tangan hanya dengan air memang dapat menghilangkan sebagian kotoran, tetapi sabun membuat proses pembersihan jauh lebih efektif. Sabun membantu mengangkat kotoran, minyak, mikroorganisme, dan berbagai kontaminan dari permukaan kulit. Gesekan saat menggosok tangan kemudian membantu melepaskan mikroorganisme, yang selanjutnya dibilas menggunakan air mengalir. Jadi, prinsipnya bukan sekadar tangan terkena air melainkan basahi – sabuni – gosok – bilas – keringkan.

Penyakit apa yang dapat dicegah?

Cuci tangan dengan sabun dan air berperan dalam mengurangi risiko berbagai penyakit menular, terutama penyakit yang penularannya berkaitan dengan tangan yang terkontaminasi, antara lain:

1. Diare

Diare merupakan salah satu penyakit yang sangat berkaitan dengan transmisi kuman melalui jalur fekal-oral. Mikroorganisme seperti Salmonella, E. coli dan norovirus dapat berpindah melalui tangan yang terkontaminasi. Kajian yang dirangkum CDC menunjukkan bahwa edukasi dan praktik cuci tangan dapat menurunkan kejadian penyakit diare sekitar 23–40%.

2. Infeksi saluran pernapasan

Cuci tangan juga berperan dalam mencegah infeksi saluran pernapasan. Ketika seseorang batuk atau bersin, mikroorganisme dapat berpindah ke tangan atau permukaan benda. Jika tangan yang terkontaminasi kemudian menyentuh mata, hidung, atau mulut, kuman dapat masuk ke tubuh. CDC melaporkan bahwa praktik cuci tangan dapat menurunkan kejadian infeksi saluran pernapasan sekitar 16–21% pada populasi umum.

3. Penyakit yang ditularkan melalui makanan

Tangan yang tidak dicuci sebelum menyiapkan atau mengonsumsi makanan dapat memindahkan mikroorganisme ke makanan. Karena itu, kebersihan tangan merupakan salah satu komponen penting dalam keamanan pangan.

4. Infeksi yang berkaitan dengan kebersihan lingkungan

WHO menempatkan kebersihan tangan sebagai salah satu faktor penting dalam pencegahan penyakit diare, penyakit pernapasan, infeksi cacing yang ditularkan melalui tanah, dan berbagai penyakit lainnya.

Kapan kita harus mencuci tangan?

Mencci tangan tidak harus menunggu tangan terlihat kotor. Beberapa waktu yang sangat penting untuk mencuci tangan antara lain sebelum makan, menyiapkan makanan, memberi makan anak, dan menyentuh makanan. Selanjutnya sesudah menggunakan toilet, membersihkan anak setelah buang air, batuk, bersin, atau membuang ingus, menangani sampah, menyentuh hewan atau kotorannya, merawat orang yang sakit, menangani luka dan melakukan aktivitas yang menyebabkan tangan terkontaminasi. Dengan kata lain, waktu mencuci tangan harus mengikuti risiko kontaminasi, bukan sekadar mengikuti kebiasaan.

Bagaimana cara mencuci tangan yang benar?

WHO merekomendasikan enam langkah cuci tangan, yaitu:

1. Gosok kedua telapak tangan dengan arah memutar secara lembut.
2. Gosok punggung tangan dan sela-sela jari tangan kiri secara bergantian.
3. Gosok sela-sela jari tangan.
4. Gosok telapak tangan dengan posisi jari kedua tangan saling mengunci.
5. Gosok ibu jari (jempol) secara berputar dalam genggaman tangan dan bergantian.
6. Gosok ujung jari tangan memutar di telapak tangan secara bergantian kemudian bilas dan keringkan

Apakah hand sanitizer bisa menggantikan sabun dan air?

Hand sanitizer bisa digunakan sebagai alternatif ketika sabun dan air tidak tersedia, terutama jika tangan tidak terlihat kotor. Pilih hand sanitizer berbasis alkohol dengan kandungan minimal 60% alkohol. Namun, jika tersedia air dan sabun, cuci tangan dengan sabun dan air tetap menjadi pilihan utama. Sabun dan air lebih efektif dalam menghilangkan berbagai jenis kuman tertentu, termasuk beberapa mikroorganisme yang tidak dapat ditangani secara optimal oleh hand sanitizer.

Cuci tangan bukan sekadar perilaku individu

Keberhasilan program cuci tangan tidak cukup hanya dengan memberikan penyuluhan. Masyarakat harus memiliki akses, fasilitas, pengetahuan, kesempatan, dan lingkungan yang mendukung perilaku tersebut. Penyediaan sarana cuci tangan di tempat-tempat umum – seperti rumah, sekolah, pasar, dan terminal – yang menjadi pusat aktivitas masyarakat sangat penting, disertai informasi dan lingkungan yang mendukung perubahan perilaku. Artinya, pesan “Ayo cuci tangan” harus diikuti dengan pertanyaan:

> Apakah air tersedia?
> Apakah sabun tersedia?
> Apakah tempat cuci tangan mudah dijangkau?
> Apakah masyarakat tahu kapan dan bagaimana mencuci tangan?

Tanpa fasilitas yang memadai, perubahan perilaku akan sulit dipertahankan.

Dari tangan bersih menuju masyarakat sehat

Cuci tangan memang bukan satu-satunya cara mencegah penyakit menular. Pencegahan penyakit tetap membutuhkan kombinasi intervensi imunisasi, sanitasi yang baik, keamanan pangan, pengelolaan lingkungan, etika batuk, ventilasi yang baik, pengendalian vektor, deteksi dini, dan pengobatan yang tepat. Namun, cuci tangan memiliki keunggulan luar biasa, antara lain sederhana, murah, dapat dilakukan siapa saja, dan dapat dilakukan setiap hari. Bahkan dalam konteks resistansi antimikroba, pencegahan infeksi melalui kebersihan tangan dapat membantu mengurangi kebutuhan penggunaan antibiotik yang tidak perlu.

Penutup

Kita sering mencari teknologi canggih untuk mencegah penyakit. Padahal, salah satu perlindungan paling sederhana ada di depan mata: sabun, air mengalir, dan tangan kita sendiri. Satu kali cuci tangan mungkin tampak sepele. Tetapi ketika dilakukan oleh jutaan orang, pada waktu yang tepat dan dengan cara yang benar, kebiasaan sederhana itu dapat menjadi intervensi kesehatan masyarakat yang sangat kuat untuk memutus rantai penularan penyakit. Jangan menunggu tangan terlihat kotor. Jangan menunggu sakit datang. Cuci tangan pakai sabun dan air mengalir menjadikan tangan bersih sebagai langkah kecil untuk melindungi diri, keluarga, dan masyarakat. Hidup sehat dimulai dari cuci tangan, dimulai dari diri sendiri dan dimulai dari sekarang.

Oleh: Nugroho Kuncoro Yudho

Pos terkait