25 Tahun Menjadi Kader

Eny Indarwati
Eny Indarwati
Eny Indarwati tampak sumringah. Kader Posyandu Bakti Ibu, Baamang Hulu, Kecamatan Baamang, Kotawaringin Timur, ini baru saja menerima penghargaan sebagai Kader Lestari dari Kementerian Kesehatan di Palangka Raya. Penghargaan ini diraihnya setelah 25 tahun mengabdi sebagai  kader Posyandu.

Selain Eny, ada juga Martini dari Desa Karang Tunggal, Parenggean, dan Salasiah dari Ujung Pandaran yang mendapatkan penghargaan serupa. Mereka menjadi kader Posyandu bukan untuk mencari uang atau popularitas, tapi demi kesehatan balita, ibu hamil, dan menyusui. Eny pun berbagi suka dukanya selama menjadi kader Posyandu. Kisah sebagai kader Posyandu berawal di tahun 1987. Ketika itu Posyandu Beringin di Kelurahan Baamang Hulu. Saking banyaknya balita yang datang, akhirnya Posyandu Beringin kewalahan. Akhirnya dibuka Posyandu Bakti Ibu untuk melayani balita yang tinggal di RT 25, RT 6, RT, 7, RT 8, dan RT 9 Kelurahan Baamang Hulu.

”Dulu saat sedang kumpul, ibu-ibu PKK menunjuk saya jadi kader Posyandu Bakti Ibu. Sejak itulah saya menjadi kader Posyandu,” kisah Eny saat ditemui di rumahnya, Gang Pertamina 1, Kelurahan BaamangHulu, Sampit.

Kader bertindak sebagai tenaga sukarela yang direkrut dari, oleh dan untuk masyarakat, yang bertugas membantu kelancaran pelayanan kesehatan. Keberadaan kader sering dikaitkan dengan pelayanan rutin diPosyandu. Sehingga seorang kader Posyandu harus mau bekerja secara sukarela dan ikhlas, mau dan sanggup melaksanakan kegiatan posyandu, serta mau dan sanggup menggerakkan masyarakat untuk melaksanakan dan mengikuti kegiatan Posyandu.

Layanan Posyandu Bakti Ibu dibuka satu bulan sekali setiap tanggal 23 sore hari. Sebab jika dilaksanakan pagi hari banyak orangtua yang bekerja sehingga kurang efektif. ”Kalau cuaca cerah, balita yang datang sampai 45 orang. Tapi kalau pas hujan, yang datang paling 20 orang,” kata perempuan kelahiran Blitar, 24 Oktober 1957 itu.

Dulu, lanjut Eny, ada 10 kader di Posyandu Bakti Ibu. Namun saat ini tinggal lima kader, sedangkan yang lainnya mengundurkan diri dengan berbagai alasan. ”Katanya sibuk, tidak sempat lagi ngurus Posyandu,” kata Eny.

Ibu tiga putra inipun menceritakan, dirinya maupun para kader lainnya memang harus sabar saat memberikan pelayanan posyandu. Pihaknya memantau perkembangan balita di lingkungannya agar kesehatannya tetap terjaga. Selain itu, ibu hamil, ibu menyusui, serta wanita usia subur juga sasaran kegiatan posyandu.

“Banyak ilmu yang saya dapat setelah saya menjadi kader Posyandu. Seperti berbagai pelatihan mengenai inisiasi menyusu dini (IMD) bagi ibu yang baru melahirkan, pemberian ASI Eksklusif, hingga pengetahuan yang didapat saat keseharian menjadi kader Posyandu,” tukas perempuan yang kini mengajar di SDN Baamang Hulu 1 ini.
Banyak hal yang dia dapatkan dengan menjadi kader. Misalnya, dia bisa bertemu dan bersilaturahmi dengan para ibu dan balita. Dengan begitu, Eny lebih banyak mengenal para ibu yang ada di wilayah kerja Posyandu Bakti Ibu. ”Saya jadi punya banyak teman. Senang juga,” ucapnya seraya tersenyum.

Mengenai dana, istri dari Sunanto ini tidak begitu mempermasalahkan meskipun nominalnya kecil. “Setiap bulan, Posyandu Bakti Ibu mendapat dana sebesar Rp 285 ribu per bulan yang dicairkan setiap tiga bulan sekali. Dana itu digunakan untuk honor lima kader dan untuk tambahan bikin bubur untuk balita,” kata Eny.

Ada beberapa perlengkapan yang dibutuhkan Posyandu Bakti Ibu, misalnya peralatan dapur dan gelas/mangkok untuk membuat bubur bagi balita. Saat ini perlengkapan tersebut masih kurang sehingga perlu pengadaan, namun belum ada anggarannya. Dia pun berharap pihak terkait turut memperhatikan Posyandu karena perannya sangat penting. “Anak adalah aset bangsa dan membutuhkan perhatian khusus, terutama dalam hal asupan gizi. Untuk itu pemantauan terhadap perkembangan balita harus dilakukan sejak dini,” tegas Eny.

Selain Eny Indarwati, Martini juga mendapatkan penghargaan sebagai Kader Lestari dari Kementerian Kesehatan. Dia mengabdi sebagai kader Posyandi Segar di Desa Karang Tunggal Parenggan sejak tahun 1993. “Awalnya nyoba-nyoba ikut jadi kader, tapi sekarang serius,” katanya.

Dirinya cukup kerepotan karena minimnya kader Posyandu di lingkungannya. Saat ini hanya ada dua kader di Posyandu Segar yang melayani lebih dari 60 orang. ”Setia buka pelayanan Posyandu, kami melayani sekitar 80 orang. Tapi yang aktif datang itu 60 orang. Kalau melayani sendiri repot,” kata perempuan kelahiran Madiun, 15 Juli 1969 ini.

Berbeda dengan Posyandu Bakti Ibu yang buka di sore hari, Posyandu Segar buka layanan sore hari setiap bulan sekali pada tanggal 18. ”Peralatan Posyandu dibantu Puskesmas Parenggean 2,” kata Martini. (yit/radarsampit)

Nama            : Eny Indarwati
TTL              : Blitar, 24 Oktober 1957
Profesi          : Guru SDN Baamang Hulu 1
Suami           : Sunanto
Anak             : Eko, Heru, dan Hendra